epistemologi pendidikan Islam
Oleh Siti Khaliza
Sitikhalija397@gmail.com
ABSTRAK
his research about How Philosophy of science explain about genetic in David Hull’s book “Philosophy of biological science” happened because David Hull as a pioneer in Philosophy of Biology didn’t specifically discuss about genetic as genetic in his book (that became one of pioneering work in Philosophy of biology study) but all chapter in his books cannot be separated from genetic. The role of genetic is very important in this book that the researcher wants to reveal. Especially the central question of philosophy of science is concern what qualifies as science (in this case is biology) is complex and many debate happen between experts in this field. The other central question about philosophy of particular science (biology in this case) is whether one scientific discipline can be reduced to the terms of another. The purpose of this research is to uncover those question, specifically are: to find the meaning of genetic in David Hull book’s Philosophy of biological science, to explain the epistemology in view of philosophy of science, and to analyze how epistemological basis of genetic in David Hull’s book. This research is philosophical study with qualitative approach. The material object is genetic in David Hull’s book “Philosophy of biological science” and the formal object on this The results of this study are to reveal the foundation of genetic epistemology in David Hull's book "Philosophy of biological science". Genetic in David Hull’s book had a very important role because it underlies biology. As biological law had described how genetic can be said as the only law in biology, and the only thing that makes biology a science. Without genetics, biology can be questioned scientifically and only becomes a natural fact. Based on this research on David Hull’s book “Philosophy of Biological Science”, Biology can be reduced to genetic. That is why the essence of Biology is genetic
Keyword:Epistemology, Western Thought
ABTSTAK
Penelitian tentang Bagaimana Filsafat ilmu menjelaskan tentang genetika dalam buku David Hull "Filsafat ilmu biologi" terjadi karena David Hull sebagai pelopor dalam Filsafat Biologi tidak secara khusus membahas tentang genetik sebagai genetik dalam bukunya (yang menjadi salah satu karya perintis dalam studi filsafat biologi) tetapi semua bab dalam bukunya tidak dapat dipisahkan dari genetik. Peran genetik sangat penting dalam buku ini yang ingin diungkapkan oleh peneliti. Terutama pertanyaan sentral filsafat ilmu adalah menyangkut apa yang memenuhi syarat sebagai ilmu pengetahuan (biologi) sangat kompleks dan banyak perdebatan terjadi antara para ahli di bidang ini. Pertanyaan sentral lainnya tentang filsafat ilmu tertentu (biologi dalam kasus ini) adalah apakah satu disiplin ilmu dapat direduksi menjadi istilah yang lain. Tujuan dari penelitian ini adalah untuk menjawab pertanyaanpertanyaan tersebut, yaitu: untuk menemukan makna genetika dalam buku David Hull's Philosophy of biologi science, untuk menjelaskan makna epistemologi dalam filsafat ilmu, dan untuk menganalisis bagaimana landasan epistemologi genetika dalam buku David Hull. Penelitian ini adalah studi filosofis dengan pendekatan kualitatif. Objek material adalah genetika dalam buku David Hull "Philosophy of biologi science" dan objek formal pada penelitian ini epistemologi. Metode yang digunakan dalam penelitian ini adalah deskripsi, interpretasi, dan heuristik. Hasil dari penelitian ini adalah mengungkap landasan epistemologi genetika dalam buku David Hull "Philosophy of biological science". Genetika dalam buku David Hull memiliki peran yang sangat penting karena mendasari biologi. Sebagaimana hukum dalam biologi dan dapat dikatakan sebagai satu-satunya yang menjadikan biologi sebagai ilmu pengetahuan. Tanpa genetika, biologi dapat dipertanyakan keilmuannya dan hanya menjadi fakta alami.
Kata Kunci: epistemologi pemikiran barat
Pendahuluan
Epistemologis adalah cabang filsafat yang membahas tentang asal mula, sumber, metode, struktur dan validitas atau kebenaran pengetahuan. Dalam kaitannya dengan ilmu, landasan epistemologi mempertanyakan proses yang memungkikan dipelajarinya pengetahuan yang berupa ilmu. Dalam kaitannya dengan moral atau nilai-nilai hidup manusia, dalam proses kegiatan keilmuan, setiap upaya ilmiah harus ditujukan untuk menemukan kebenaran, yang dilakukan dengan penuh kejujuran, tanpa mempunyai kepentingan langsung tertentu dan hak hidup yang berdasarkan kekuatan argumentasi secara individual. Jadi ilmu merupakan sikap hidup untuk mencintai kebenaran dan membenci kebohongan. Di dalam Al Qur’an terdapat kata-kata tentang ilmu dalam berbagai bentuk (‘ilma, ‘ilmi, ‘ilmu, ‘ilman, ‘ilmihi, ‘ilmuha, ‘ilmuhum) terulang sebanyak 99 kali. Delapan bentuk ilmu tersebut bisa diartikan dengan: pengetahuan, ilmu, ilmu pengetahuan, kepintaran dan keyakinan. Kata ilmu dalam pengertian teknis operasional ialah kesadaran tentang realitas. Pengertian ini didapat dari makna-makna ayat yang ada di dalam Al Qur’an. Orang yang memiliki kesadaran tentang realitas lewat pendengaran, penglihatan dan hati akan berfikir rasional dalam menggapai kebenaran (QS. 17 : 36). Ibn Khaldun dan Iqbal) berpendapat bahwa ilmu adalah realitas kebenaran yang hadir secara utuh dalam persepsi individu.
Pemahaman bisa berbeda atas suatu realitas atau obyek. Kehadiran secara utuh dari suatu obyek terhadap subyek adalah suatu realitas yang tak bisa dielakkan. Inilah yang oleh Iqbal dikatakan bahwa ilmu itu harus dinilai dengan konkrit, yakni ilmu harus bisa terukur kebenarannya. Untuk mengukur kebenaran itulah diperlukan filsafat epistemologi. Nalar filsafat dalam Islam terbentuk, setidaknya dangan tiga sebab. Pertama karena adanya kebutuhan untuk menyesuaikan antara teks dengan konteks yang terus berkembang. Kedua, secara teologis, adanya tuntutan untuk menyelaraskan pandangan-pandangan yang kontradiktif dan rumit, seperti antara kemahakuasaan dan kemahabaikan Tuhan dalam kaitannya dengan pengetahuan tentang perbuatan baik dan buruk manusia. Ketiga, karena adanya serangan orang-orang non muslim terhadap pandangan teologis masyarakat Islam seperti yang dilakukan pendeta Yahya al-Dimasyqi.
A.Kajian Epistemologi Pendidikan Islam
Secara jelas Mujamil Qomar dalam bukunya Epistemologi Pendidikan Islam menyebutkan bahwa epistemologi dalam kajian ilmu bagaikan akar untuk batang pohon. Batang pohon akan berdiri kokoh, jika akarnya juga kuat. Barangkali analagi ini sebanding juga antara ruh terhadap jasad. Ruh itu sebagai akarnya dan jasad itu batang pohonnya. Epistemologi harus berdiri mengakar kuat dalam setiap disiplin ilmu agar tidak mudah tergoyangkan. Jika tidak kuat epistemologinya, maka bisa saja digoyang oleh epistemologi pendidikan sekuler yang terkadang tidak bisa dihindari. Hal itu bisa terjadi karena perbedaan pandangan filosofis (world view). Dalam konteks urgensi epistemologi terhadap ilmu, dengan berani Mujammil Qomar mengatakan bahwa dalam disiplin ilmu keislaman murni, hanya fiqhlah yang responsif terhadap epistemologi melalui ushul al-fiqh. Artinya, epistemologi tafsir, hadits, tauhid, akhlak, dan tasauf tidak responsif terhadap epistemologi ilmu. Selanjutnya sebagai Guru Besar dalam bidang Pendidikan Islam, ia mengatakan bahwa Pendidikan Islam belum memiliki epistemologi. Sementara itu, epistemologi merupakan problem utama pendidikan Islam. Mestinya menurut Mujammil Qomar, epistemologi pendidikan Islam lebih awal dibangun dalam Islam daripada epistemologi hukum Islam. Penulis melihat sudah ada usaha ahli ilmu pendidikan Islam Indonesia atau lebih tepat ahli tarbiyah secara umum melalui Musyawarah Nasional dan seminar sejak di Ciawi sampai di Cirebon tahun yang kemudian hasilnya diedit oleh Prof. Dr. Ahmad Tafsir dalam salah satu buku yang berjudul Epistemologi untuk Ilmu Pendidikan Islam. Usaha ini barangkali belum dinilai oleh Mujamil Qomar sebagai salah satu konsep epistemologi pendidikan Islam atau bisa jadi ia tidak melihat epistemologi ilmu pendidikan Islam sebagai epistemologi pendidikan Islam.
Untuk membantu pemahaman tentang itu, pada pembahasan bab selajutnya akan disajikan peta ilmu agama Islam, pendidikan Agama Islam, dan ilmu pendidikan Islam. Epistemologi Islam ada yang melihat tidak berbeda dengan epistemologi secara umum (Barat), bahkan ada yang menolak epistemologi Islam. Parvez Hoodbhoy, fisikiwan muda yang cukup terkenal di Universitas Quadiazam Pakistan dalam bukunya Islam and Science, ia mengatakan “tidak ada yang disebut ilmu islami, semua upaya untuk mengislamkan ilmu akan mengalami kegagalan.” alasannya universalitas dan obyektivitas. Tentunya ada sebagian kecil yang berpendapat bahwa ada ilmu islami dan sekaligus ada epistemologi Islam. Mereka itu banyak mengupas tentang islamisasi ilmu, di antaranya Ziauddin Sardar, Syed Husein Naser, Muhammad Naquib al-Attas, dan di Indonesia dengan jelas Mulyadi Kertanegara mengatakan bahwa ada islamisasi ilmu. Epistemologi Islam selain ada kata Mulyadi Kertanegara, urgen juga mengadakannya. Epistemologi Islam urgen karena para penulis tidak terlepas dari Baca Mulyadi Kertanegara, Mengislamkan Nalar: Sebuah Respon terhadap Modernitas, subyektivitasnya. Ketika ilmu dan juga epistemologi ditulis oleh orang Barat, maka pemahaman filsafat materialisme, positivisme, dan sekulerisme menjadi landasannya. Landasan filosofis itu secara theologis akan membahayakan konsep islami kata Mulyadi Kertanegara. Perspektif ilmu islami diperlukan ketika ilmu-ilmu itu bertentangan dengan ajaran Islam.
Dari perspektif lain, Fazlul Rahman berpendapat bahwa al-Qur’an bisa diajak berbicara dari berbagai disiplin ilmu, karena al-Qur’an panduan hidup terlengkap yang mampu menjawab semua persolan. Potensi desktruktif sains modern (Barat) menurut Nurcholis Madjid adalah bertindak sebagai ”berhala baru”. Zaman modern yang dimulai dari revolusi industri di Inggris dan revolusi sosial-politik di Perancis berakibat pada modernitas yang sangat lahiri anti ruhani. Roger Garaudy seorang pemikir Marksis berpindah agama menjadi Muslim menyebutkan bahwa zaman teknik untuk tidak mengatakan zaman modern dimana sains modern mendominasi sebagai “agama piranti” Piranti, manusia, sehingga menjadi agama baru bagi mereka. Dari uraian di atas, penulis setuju dengan islamisasi ilmu yang di dalamnya islamisasi epistemologi. Penulis juga setuju dengan substansi perlunya membangun epistemologi pendidikan Islam dan apalagi perkembangan teori tarbiyah secara umum masih memerlukan jihad intelektual. Semangat menulis ini dapat dukungan teoritis dari epistemologi fiqh, ”jika benar dapat pahala dua dan jika salah dapat pahala satu: idza ashaba falahu ajrani wa idza akhthaa’ falahu ajrun wahid” Tulisan ini secara khusus merupakan respon epistemologis terhadap pendidikan Islam (tarbiyah: ta’dib menurut al-Attas). Ultimate goal dari tulisan ini memperkaya teori-teori ”tarbiyah” bukan ”education.” Pembahasan pokok dalam tulisan ini adalah memahami istilah epistemologi, membangun epistemologi Islam, dan epistemologi teologi Islam sebagai salah satu rumpun studi pendidikan Islam, dan terakhir merumuskan prinsip-prinsip kurikulum teologi Islam sebagai wujud manifestasi epistemologis. Kelemahan epistemologis akan membuat disiplin keilmuan islami tidak bisa menyaingi perkembangan ilmu dan teknologi di Barat. Landasan epistemologi Islam diyakini telah ada sejak zaman Rasulullah, hanya saja ia belum terajut (tersistematisasi).
Hal itu dapat dimaklumi dalam perspektif sosiologis zaman Rasulullah yang disibukkan dengan dakwah Islam sebagai agama dan ajaran. Pada perkembangan ilmu pengetahuan dalam bidang pendidikan, fenomena justifikasi telah dilakukan kajian tarbiyah. Namun kalau kulitnya tarbiyah, tetapi substansinya tetap pendidikan dalam arti education, maka tidak bisa dibedakan mana ilmu yang sumbernya dari sumber-sumber Islam dan mana sumbernya dari Barat. Untuk itu para ahli tarbiyah harus melanjutkan jihat inlektual untuk proses justifikasi terhadap teori pendidikan Barat. Selain itu, jihad intelektual itu dikembangkan untuk proses developmental, verifikatif, dan bahkan proses eksploratif. Kita tidak perlu malu mengakui bahwa teori-teori pendidikan yang berkembang lebih banyak ”diproduksi” Barat dan kita masyarakat tarbiyah sebagai konsumennya. Dengan membangun epistemologi pendidikan Islam, kita berharap di suatu saat, pendidikan Islam sebagai produsen, dimana konsumennya masyarakat tarbiyah secara khusus dan jika memungkinkan, masyarakat pendidikan secara umum.
epistemologi menyimpan “misteri” pengertian yang tidak mudah dipahami. Para ahli pun tidak bisa menghindar dari perbedaan ketika mendefenisikannya. Perbedaan itu bukan saja pada aspek redaksi, tetapi termasuk pada aspek substansi. Untuk lebih jelasnya akan dikemukakan defenisi yang dikemukakan oleh para ahli tentang empistemologi. Ada ahli yang mendefenisikan epistemologi sangat umum, di antaranya, Andi Hakim Nasution mendefenisikan bahwa epistemologi membahas bagaimana caranya orang menjadi maklum. Selain itu muridnya, Jujun S. Suriasumantri dalam bukunya Filsafat Ilmu mendefenisikan epistemologi, cara mendapatkan pengetahuan yang benar. Defenisi yang singkat dan jelas dikemukakan oleh Juhaya SAda ahli mendefenisikan epistemologi dengan lebih rinci, di antaranya Kattsoff, sebagaimana dikutip oleh M. Zainuddin, bahwa epistemologi adalah cabang filsafat yang membahas tentang, asal-muasal, metode, keshahihan ilmu pengetahuan. Selanjutnya dirinci secara berurut: 1. Cabang filsafat 2. Membahas asal-muasal 3. Metode 4. Keshahihan ilmu pengetahuan Dagobert D. Runes. Dia menyatakan bahwa epistemologi merupakan cabang filasafat yang membahas tentang sumber, struktur, metode-metode, dan validitas pengetahuan. Selanjutnya dirinci secara berurut: 1. Membahas sumber pengetahuan 2. Membahas struktur pengetahuan 3. Membahas metode mendapatkan pengetahuan. 4. Membahas ukuran kebenaran pengetahuan. Hamlyn mendefenisikan bahwa epistemologi adalah cabang filsafat yang berusaha membahas dasar, hakikat, ruang lingkup, dan analogi pengetahuan. Jika unsur-unsur pengetahuan tersebut berkumpul pada diri seseorang, secara umum dapat dikatakan bahwa ia memiliki pengetahuan.
B.Epistemologi Dalam Pendidikan Agama Islam
Epistemologi ilmu yang akan dibangun dalam tulisan ini tentang pendidikan agama Islam. Secara filosofis membahas pendidikan agama Islam lebih sulit dibandingkan dengan pendidikan Islam yang kaya dengan rujukan. Secara normatif, di Indonesia ada yang disebut dengan Ilmu Agama Islam. Menurut Keputusan Bersama Menteri Agama Republik Indonesia dan Lembaga Ilmu Pengetahuan Indonesia ada delapan yang termasuk dalam rumpun ilmu agama Islam, yaitu: 1. Tafsir/ Ilmu Tafsir, 2. Hadits/ Ilmu Hadits, 3. Ilmu Kalam /Teologi, 4. Filsafat Islam, 5. Tasauf, 6. Fiqh (hukum Islam). Sejarah dan Kebudayaan Islam, dan Pendidikan Islam. Dari Keputusan Bersama di atas, sangat jelas bahwa pendidikan agama Islam tidak memiliki tempat. Kalaupun ada yang mirip, mungkin bisa disebut pendidikan Islam, tetapi apakah sama pendidikan agama Islam dengan pendidikan Islam? Atau bagaimana hubungannya jika keduanya memiliki hubungan? Untuk menjawab pertanyaan di atas, ada baiknya diuraikan tulisan Abuddin Nata yang mengkatagorikan Pendidikan Agama Islam.
Menurutnya, pendidikan agama Islam terdiri dari: al-Qur’an, Hadits, Akidah,Akhlak,,Ibadah/Syariah, dan Sejarah Kebudayaan Islam. Abuddin Nata, Paradigma Pendidikan Islam, Kalau dianalisa cakupan (scope) pendidikan agama Islam di atas dalam konteks pendidikan di Indonesia, maka dengan sendirinya dapat disebutkan bahwa kelompok studi yang termasuk dalam pendidikan agama Islam di atas adalah sekelompok kurikulum yang disajikan dalam mata pelajar yang diajarkan di Madrasah Tsanawiyah dan Aliyah. Kemudian, secara konkrit dari uraian di atas, tidak ada hubungan pendidikan agama Islam dengan pendidikan Islam. Yang ada, justru ilmu agama Islam hampir sama isinya dengan pendidikan agama Islam atau setidaknya banyak kesamaannya. Tetapi lain halnya dengan Ahmad Tafsir, “yang dibicarakan dalam ilmu pendidikan Islam tidaklah hanya pendidikan agama Islam sebagai suatu bidang studi, dan tidak hanya membicarakan keimanan. Ilmu pendidikan Islam membicarakan pendidikan secara menyeluruh, satu di antaranya ialah pendidikan agama Islam.” Dari uraian Ahmad Tafsir di atas, jelas sekali hubungan pendidikan agama Islam dengan ilmu pendidikan Islam. Pendidikan agama Islam sebagai bagian kecil dari ilmu pendidikan Islam.
Ahmad Tafsir, “Epistemologi untuk Ilmu Pendidikan Islam”, dalam Ahmad Tafsir , Epistemologi Dan semakin jelas peta pendidikan agama Islam itu ketika Ahmad Tafsir mengatakan, “suatu ketika kita harus juga membicarakan pendidikan teknologi, pendidikan keterampilan, pendidikan matematika, dan sebagainya.” Menurut penulis, dalam konteks pendidikan Islam yang dimaksud oleh Ahmad Tafsir itu pendidikan keterampilan Islam, pendidikan matematika Islam, pendidikan teknologi Islam, sebab konsep pendidikan secara umum itu sudah ada. Kemudian pendidikan dalam konteks di atas lebih mendekati makna pengajaran atau pelajaran. Pendidikan biologi berarti palajaran biologi atau pengajaran tentang pengetahuan biologi atau pengajaran yang berhubungan dengan pengetahuan biologi. Pendidikan teknologi berarti pengajaran tentang pengetahuan teknologi atau pengajaran yang berhubungan dengan pengetahuan teknologi. Maka pendidikan agama Islam berarti pengajaran pengetahuan agama Islam atau pengajaran pengetahuan agama dalam Islam. Atau pengajaran yang berhubungan dengan agama Islam. Dengan demikian, pendidikan agama Islam lebih bersifat praktis teknis. Sedangkan pendidikan Islam lebih bersifat teoritis filosofis. Maka ketika teori-teori dalam pendidikan Islam berubah menjadi manual, maka pendidikan itu dinamakan dengan nama lain.
Kesimpulan
Epistemologi ilmu yang akan dibangun dalam tulisan ini tentang pendidikan agama Islam. Secara filosofis membahas pendidikan agama Islam lebih sulit dibandingkan dengan pendidikan Islam yang kaya dengan rujukan. Secara normatif, di Indonesia ada yang disebut dengan Ilmu Agama IslamPendidikan agama Islam sejajar dengan pendidikan biologi Islam, pendidikan keterampilan Islam, pendidikan Islam, pendidikan fisika Islam, dan berbagai bidang studi lainnya. Jika demikian, maka pendidikan agama Islam bagian dari pendidikan Islam dan pendidikan Islam adalah bagian dari ilmu agama Islam. Dari uraian di atas dapat ditarik dua kesimpulan, Pertama, pendidikan agama Islam secara filosofis sama dengan ilmu agama Islam. Secara kurikulum dalam konteks keindonesiaan ilmu agama Islam yang diajarkan di Perguruan tinggi adalah kelanjutan dari pendidikan agama Islam yang diajarkan pada tingkat dasar dan menengah. Kedua, pendidikan agama Islam adalah bagian kecil dari pendidikan Islam. Pendidikan Islam adalah bagian dari ilmu agama Islam. Perbedaan pendidikan agama Islam dengan pendidikan Islam. Pendidikan agama Islam lebih bersifat praktis teknis sedangkan pendidikan Islam bersifat teoritis dan filosofis. Oleh sebab itu, konsep pendidikan agama Islam harus bersifat operasional aplikatif.
DAFTAR PUSTAKA
Andi Hakim,(1989), Pengantar ke Filsafat Sains, Jakarta: Litera Antar Nusa
Mujamil,(2005), Epistemologi Pendidikan Islam, Jakarta: Airlangga
Fazlul,(1995), Islam dan Modernitas, Bandung: Pustaka
Ahmad,(1995) Epistemologi Untuk Ilmu Pendidikan Islam, Bandung: IAIN Sunan Gunung Djati
Komentar
Posting Komentar