FIlSAFAT PENDIDIKAN ISLAM
Tugas Siti khalizah
February 18 /2021
Sumber bacaan: FILSAFAT PENDIDIKAN AKHLAK
Oleh: Dr.sehat Sultoni dalimunthe,M.A.
FILSAFAT PENDIDIKAN AKHLAK
Oleh: sitikhalija397@gmail.com
Mahasiswa pendidikan agama Islam
IAIN Padangsidimpuan
Assalamualaikum wr.wb
Segala puji bagi Allah SWT yang masih memberikan kita kehidupan kita di dunia ini serta memberikan kita nikmat yang berlimpah . Jangan kita lupa curahkan junjungan kepada nabi Muhammad SAW beserta keluarga,kerabat ,umatnya.hingga Ahir zaman.
Di dalam islam keadilan bisa disebut dengan al-adl dan bisa juga dengan al-adalah, juga ada yang disebut dengan al-qisth. Ketinganya punya aksentuasi tersendiri. Al- adl berupa non materil bukan dalam pengertian kesamaan dan persamaan, al-adalah bersifat materil dalam pengertian kesamaan dan persamaan, sedangkan al-qisth bisa disebut bersifat kebijaksanaan dengan corak Komensalistis.
Dalam Q.S al-An'am/6: 160 Allah membuat aturan main berbuat baik dan berbuat buruk. Perbuatan baik diganjar atau dibalas atau dihargai 10 kali lipat, sementara perbuatan buruk hanya didenda sesuai dengan standart keburukannya, dalam arti tidak dilipatgandakan balasannya. Ini adalah al-adl bukan al-adalah.
مَنْ جَاۤءَ بِالْحَسَنَةِ فَلَهٗ عَشْرُ اَمْثَالِهَا ۚوَمَنْ جَاۤءَ بِالسَّيِّئَةِ فَلَا يُجْزٰٓى اِلَّا مِثْلَهَا وَهُمْ لَا يُظْلَمُوْنَ
Artinya: "Barangsiapa berbuat kebaikan mendapat balasan sepuluh kali lipat amalnya. Dan barangsiapa berbuat kejahatan dibalas seimbang dengan kejahatannya. Mereka sedikit pun tidak dirugikan (dizalimi)".(Qs.al-An'am/6:160)
Jika ada yg menilai bahwa Allah tidak adil, kenapa kebaikan balasannya dilipatgandakan, sementara keburukannya dubala dengan setimpal, karena ini adalah konsep al-adl bukan al-adalah. Disinilah kita dapat menilai bahwa Allah adalah pro orang baik dan kebaikan. Dalam perspektif pendidikan islam, disini Allah terlihat cenderung sebagai murabbi (al-tarbiyah) yang menonjolkan konsep kasih sayang pada hamba-Nya. Yang berbuat baik adalah hamba-Nya, yang berbuat buruk juga hamba-Nya. Tuhan sesungguhnya sangat mengharapkan hamba-Nya orang baik dalam pengertian tidak menggugat konsep kekayaannya (ghaniun an al-alamin).
Jika teori filsafat pendidikan akhlak di atas diterapkan dalam pendidikan akhlak, maka hendaknya para pendidik memberi reword dan reinforcement (al-tsawab wa al-jaza) berlipat ganda kepada orang yang berprestasi, sebaliknya memberi "punishment" (al-iqab) setimpal dengan tingkat kesalahannya.
Orang-orang yang disekolahnya dapat ranking 1 ada baiknya sering disebut, agar orang lain terdorong untuk berprestasi dan yang berprestasi mendapat "sumbangan moril" , tetapi orang yang bodoh jangan sering disebut, bisa diberi contoh sesekali saja. Bertentangan dengan cara mendidik, ada orang yang terlambat sering disebut-sebut, "si anu berkali-kali terlambat", tetapi orang yang tepat waktu justru jarang disebut sebagai contoh. Penyebutan teladan lebih didahulukan daripada penyebutan contoh buruk. Dalam pendidikan agama, surga harus lebih sering disebut, sedangkan neraka disebut sekali-kali saja. Dalam nomenklatur pendidikan islam, konsep pendidikan akhlak mendahulukan al-targhib daripada al-tarhib.
Sekian dari saya apabila ada kata kata yang salah saya duluan minta maaf🙏🙏
Wallahu a'lam bishawab 😊
Komentar
Posting Komentar